Archive for March, 2008|Monthly archive page

Ruang Kosong

Ntah sudah berapa kali dia melewati tempat itu sebelumnya, mungkin sudah ratusan kali. Tapi tak disangka dari ratusan kali ketidakpedulian itu, Dia akhirnya berkata sesuatu kepadanya

Seperti manusia lainnya, dia pun punya masalah

Bukan tak ada duit untuk makan

Bukan kekerasan dalam keluarga

Bukan pula terjerat narkoba

Dia hanya orang biasa dengan masalah yang biasa

Masalah kejenuhan, ketidakpuasan, dan satu hal lagi yang tak bisa digambarkan, yang mungkin sudah terlalu lama tersimpan hingga tak bisa lagi dikeluarkan

Jenuh….

Suatu titik yang (tampaknya) memang harus selalu ada

Suatu hal yang memang menetapY

ang membuatnya tak pernah peduli lagi kalo rasa itu datang bertamu Pikirnya

’dia pasti pergi lagi’

Tapi kali itu dia sudah jenuh pada kejenuhan

Kekosongan itu terlalu mendesak

Dan dia pun menangis

Dia pun akhirnya menyapa Sang penciptanya

Menyapa yang telah lama dilupakannya

Dia berusaha memilah-milah setiap perasaannya dan menceritakannya

Tapi diakhir ceritadia sampai pada satu kesimpulan

Kesimpulan yang membuat dia berhenti menyapa dulu

Kau tak sayang padaku’

’Aku tidak berarti’

’mungkin Kau memang tak pernah ada’

’Kau tak peduli padaku’

dan dengan putus asa dia berkata

’God please say something….’

dan hening menjawab

Jawaban itu baru sampai diotaknya pada pagi harinya

Seperti biasa dia berangkat ke kampusnya

Seperti biasa pula dia menjalani jalan yang sama

Tapi tak seperti biasa dia mengamati rumah berpagar hijau

Yang pagarnya sering sekali terbuka

Dia mengamati garasi rumah itu yang terletak 5 meter dari pagar hijau itu

Disamping garasi tersebut terdapat papan alamat rumah tersebut dan dibawah papan alamat tersebut terdapat satu papan lagi

Papan itu bertuliskan

 He cares 

Sejenak dia terdiam

Lalu tersenyum

Dan ntah kenapa ketika dia kembali melangkahkan kakinya

Ada sesuatu yang berbeda

karena…

Ruang kosong itu akhirnya terisi (lagi) 

————————————————————————————

He… sebenernya papan dan rumah itu ada lho( tapi tokoh dia si ngarang), letaknya disumur bandung, sebelah ssc, gw sering banget liat papan itu setiap naik angkot sadang serang. Ditengah-tengah kegilaan kampus, tulisan yang sederhana macam begitu, ternyata sangat menghibur. berhubung gw sering stress (hmmm… hiperbolis ni) kalo sedang menuju kampus (apalagi kalo lagi nelat), jadi tiap kali baca tulisan itu diingatkan kembali kalo ternyata Dia peduli. Perasaan gw jadi tenang lagi, kaki gw jadi mijak tanah lagi setelah hampir kelelep bumi

radit dj dan matahari rahani

 nie dia cerbug yang gw coba-coba, kisah tentang radit djamiran (radit dj) dan matahari rahani, maap kalo masi ada salah-salah kate dan masih gak enak dibaca (susah bo nge-editnya) okeh…

————————————————————–

 

Sudah hampir setahun aku tidak berjumpa dengannya, dia sekarang sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan thesis yang ntah apa judulnya. Kami baru berpacaran kira-kira tiga bulan sebelum akhirnya dia menempuh pendidikannya di jepang. Seharusnya kalo menurut cerita-cerita di film, sinetron atau novel pada umumnya, seharusnya akulah yang dia tunggu, karena akulah bakal calon suaminya, akulah pria pada kisah cinta kami ini. Tapi toh kenyataanya akulah yang harus menunggu wanitaku.

Tapi…katanya sebentar lagi, sebentar lagi dia akan pulang,

tapi sebentar lagi itu menurut ukuran waktu siapa…

Sudah sebulan dia bilang seperti itu, tikus dirumahku sudah hampir punya cicit tapi dia masih belum juga pulang.

Hanya kata ‘sebentar lagi’ belum bisa membuatku tenang.

Aku takut kehilangan dia. Apalagi akhir-akhir ini dia sering tidak menjawab teleponku

Dan ide gila setengah waras itu muncul dalam benakku. 

 Aku akan melamarnya.  Ya… walaupun hanya tiga bulan kami berpacaran jarak dekat, tapi  sebenarnya kami sudah mengenal dari lima tahun yang lalu, sejak kami masih kuliah dibandung dulu. Saat pertama kali bertemu dengannya tidak dapat dilupakan, saat itu aku baru saja keluar dari perpustakaan umum, sehabis menyelesaikan tugas besar akhir semester empat. Karena dari tadi pagi memang hujan maka aku sebagai manusia dan pria normal memang sudah membawa payung dari kosan (taukah anda ada anggapan kalo pria normal tidak membawa payung), dan ketika aku membuka payungku tiba-tiba ada seorang gadis yang menyambar payungku,

’kedepan doang bang, berapa?’ tanyanya

’hah…?’

’ojek payung kan?’

’bukan’ jawabku, sejak kapan ojek payung bawa ransel plus tabung begini pikir ku

’oh… ya ampun, maaf…’ ujarnya sambil menaikkan kacamatanya

‘gak papa.. gw anterin deh ampe dapet angkot’ 

dan itulah pertama kali aku bertemu dengan matahariku, wanita yang sangat khas dengan kaca matanya yang berbingkai kuning pudar, sepatu kets warna kuning pula, dan kesukaannya memakai baju gombrong. Sejak saat itu kami berteman atau bahkan bersahabat, karena selera humor kami dan hobi eksplorasi tempat makan kami yang memang sama.aku memang tak pernah menyangka kalau aku bakal jatuh hati padanya, karena aku selalu berjanji pada diriku sendiri akan mencari pacar yang wanita asli, wanita yang manut. Tapi ternyata takdir memang kejam (atau takdirku yang hilang ya?). Aku jatuh hati padanya, bukan berhenti sampai situ saja, karma itu masih balas dendam padaku, ternyata setelah menyatakan perasaanku, aku ditolak, tapi aku tetap mengejar, mencoba lagi dan akhirnya diterima (plok-plok-plok,-terimakasih- ) dan setelah tiga bulan berpacaran, penjajah jepang mengambilnya.

Sekarang kami sudah cukup umur, sudah cukup saling mengenal dan sudah cukup semuanya

Jadi ide ini bisa dibilang setengah gila dan setengah waras

Ya…. Aku akan melamarnya  

***

Hari ini aku akan membuat kejutan untukknya. Aku tahu dia suka menceritakan sebuah taman kesukaannya, yang terletak didekat tempat tinggalnya disana. Aku tak pernah kesana tapi aku tahu dia sangat menyukai taman itu. Dan dengan bantuan sepupuku yang tinggal disana, kejutan itu kusiapkan malam ini

seharusnya semuanya sudah terlaksana.disana, disebuah taman yang belum pernah aku datangi itu sudah tersusun hiasan lampu disepanjang jalan kearah taman itu. Ditengah taman yang dikelilingi pohon-pohon cemara (katanya) yang juga sudah dihiasi oleh lampu-lampu terdapat sebuah meja yang diatasnya terletak setangkai bunga matahari, sebuah kotak yang berisi cincin emas yang kucari hampir seminggu, sebuah telepon, dan sepucuk surat yang kutulis dengan tangan ku sendiri, surat itu sangat singkat,  isinya hanya empat kata 

‘will you marry me?’ 

sebuah telepon yang terletak disebelah surat itu akan segera menyambungkan aku dengannya. Ia akan menjawab lamaranku lewat telepon itu

Sudah terlambat satu jam dari waktu yang ditentukan, tanganku yang tadinya berkeringat dan dingin kini semakin berkeringat dan semakin dingin karena pikiran yang mengacau. Aku mulai menghitung mundur setiap waktu yang diperlukan, ditambah pula dengan waktu keterlambatan kalo-kalo terjadi sesuatu. Tapi seharusnya tidak selama ini.Setan mulai menabur pikiran-pikiran yang membuatku takut. Dan setan pun berhasil, sekarang aku ketakutan, Aku takut dia ternyata menolak lamaranku atau marah karena melamarnya dengan tidak langsung begitu atau dia tertarik dengan orang jepang atau apalah…. 

Akhirnya setelah dua jam menunggu aku akhirnya menghubungi hendry, sepupuku yang mengatur semuanya itu untukku.  

’hen… gimana? Ari dimana sih, lancar kan?’

’semuanya sih lancar dit, Cuma ari bilang nanti jawabnya’ jawab henry tanpa nada

’nanti gimana maksud lo’ tanyaku lagi

’gak tau, tanya aja sama ari ’ jawab hendry datar seperti biasa

’ya tapi dia bilang apa…’

’dia bilang tunggu, nanti dia kasih jawabannya kalo dah pas waktunya’

’ya udah gw telp dia ajalah’ jawabku tak sabar sambil meremas–remas tanganku yang semakin dingin

’dia gak mau ngomong ma lo dulu’ kembali menjawab dengan nada datar

‘lha emang kenapa?Dia marah?’ tanyaku heran

‘Gak ‘

‘Trus…’

‘Ya dia bilang tunggu’

‘Duh… lo bisa lebih jelas gak si hen, dia marah atau gak, seneng atau begimana gitu?’

‘duh radit djamiran kartasasmita gw kan dah bilang matahari rahani itu nggak marah ama lo, dia bilang cuma tunggu’ jawabnya yang akhirnya menunjukkan emosi

‘heh nama gw gak pake kartasasmita…’

‘sama aja’

‘sama gimana, bedalah…, dibanding lo, nama kok hendry doang’

‘mmm… terserahlah’ jawabnya kembali kehilangan emosi

‘aaargh… susah emang ngomong ma lo, dah lah..’ 

Dan telepon itu hampir kubanting sangking keselnya, coba kalo gak inget harganya dan dosa karena  buang-buang rejeki pasti handphone itu udah ada dilantai hancur belur, aku injek tujuhpuluh kali tujuh. Aaargh…  

Setelah malam itu selama tiga hari ini tanganku suka tiba-tiba berkeringat kalo mendengar suara telepon berbunyidan sekarang sudah hampir empat hari, aku belum dapat kabar dari matahariku.Tiba-tiba telepon berbunyi

Tanganku kembali berkeringat dan jantungku berdegub kencang

Tapi kembali kering secara tiba-tiba ketika melihat layar handphonekudilayar handpone itu tertulis 

Lontong sayur is calling… 

’paan vin?’ tanya ku malas

’jadikan hari ini?’

’ jadi apaan…’

’jadi nemenin gw ke acara pesta ultah temen gw’

’yaelah vin, gw lagi gak mood ni, lo ajalah…’

’eh dit, janji tetep janji, gw jemput jam enam ya’

’duh lo kayak homo aja, ngajak gw, ngajak rena kek’

’jam 6 oke, eh… dandan yang ganteng’

’jijik lo’

***

ini pesta sapa si…’ tanyaku ketika sampai di sebuah taman yang sudah dihiasi lampu-lampu dan balon-balon. Musik akustik sudah terdengar dari jauh dan orang-orang pun sudah lumayan ramai disitu

‘temen gw’ jawab alvin enteng

‘ya sa…’ sebelum kalimat itu selesai, aku tiba-tiba terjatuh, tersandung seutas tali

gedubrak..

dan sebelum aku bisa berpikir tiba-tiba timpukan air, telor dan tepung pun melayang kemuka dan seluruh badanku. 

‘ya kepesta ulang tahun lo lah dit’ 

setelah puas ketawa, dan sebisa mungkin membagi ‘adonan’ pada yang lain. Muncullah mc di atas panggung sederhana, ia  menyuruh semua undangan untuk duduk dimejanya masing-masing, dimeja bundar dengan taplak biru tua yang dikelilingi oleh kursi-kursi plastik berwarna-warni. Dan aku pun duduk di meja yang terdekat

‘da apaan lagi ni nyong’ tanyaku pada nyoman yang duduk disebelahku

‘ada yang mau persembahin lagu buat lo’ jawabnya sambil garuk-garuk perut seperti biasa

‘heh… gw ada penggemar juga’

‘ya begitulah’ sambil tak berhenti menggaruk perutnya

semua lampu ditaman itu diredupkan dan lampu sorot difokuskan pada panggung yang sederhana itu, lampu sorot itu tiba-tiba mengikuti langkah seorang wanita cantik yang mengenakan gaun berwarna kuning lembut, dengan rambut diikat kepinggir berjalan dengan hak tinggi sambil membawa gitar dan akhirnya duduk ditengah, dikursi yang telah disediakan dan setelah itu ia menarik mic mendekat

dan mulutku pun tanpa sadar menganga 

’matahari? woi… itu matahari bukan’ tanyaku pada mereka

’bukan… pocong’ jawab alvin

’matahari…’ ujarku tak percaya 

lagu ini belum sempat gw nyanyiin pas lagi ngetop-ngetopnya. Tapi sekarang masih cukup ngetoplah ya…, lagu ini gw persembahin buat radit dj. Selamat menikmati semuanya… 

aku mengamati wajah yang telah lama sekali tak kulihat, sebelum menyanyi, ia memanggil seorang pelayan dan memberikan sesuatu padanya. Pelayan itu sekarang berjalan kearahku dan menyerahkan sepucuk kertas yang berasal dari mataharikudia sudah mulai bernyanyi dengan merdu 

’ kau begitu sempurna…’ 

dan kubuka kertas putih itudan kubaca perlahanhanya tiga huruf dan dua kata, tapi sangat indah 

’dimataku kau begitu indah’ 

kertas itu bertuliskan  

i do 

kubaca beberapa kali, kucerna baik-baik

langsung kupandang dia yang berada diatas panggung memastikan tulisannya, dia pun menatapku lalu melambaikan tangan kanannya dan menggoyangkan jari manisnya yang telah terpasang cincin pemberianku.Dia tersenyum manis sekali.  Dan aku pun tertawa terbahak-bahak diiringi lagu yang ia nyanyikan  

bersambung