Aku terburu waktu, sangat terburu buru. Kembali aku melihat jam ditanganku…
‘ah sudah semakin sore’
Sudah jam 4 dan aku masih belum tahu bagaimana sampai kesana. Lalu lintas juga sudah memadati, orang orang mulai berkeluaran dari segala penjuru kota besar ini. sedangkan aku masih bingung harus bagaimana.
Akhirnya setelah diam sesaat aku bertanya pada sekumpulan orang yang sedang parkir dekatku. Sekumpulan orang yang sudah bersiap siap beranjak dari tempat ini tapi kuganggu sebentar.
Aku ketuk kaca hitam dan tak lama kaca itu diturunkan
‘saya ingin ke selatan bagaimana caranya?’
‘alamat jelasnya dimana mbak?’ balas pria didepanku
Aku terdiam sebentar karena ketidaktahuanku. Aku memang tidak tahu jelas alamatnya tapi aku rasa aku bisa kesana, aku pasti bisa, yang pasti itu didaerah selatan.
‘keselatan saja’ kataku lagi.
Aku tahu jawabanku bodoh. Tapi orang itu tidak menunjukkan wajah bingung atau acuh. Hanya ada sedetik jeda dan helaan napas.
‘sekarang sudah sore, mbak saya antar pulang aja ya?’ balasnya
Aku masih ingin tetap mencari itu. Masih sangat ingin… ingin sekali, mungkin sama seperti pengawal mengaharapkan pagi, seperti pangeran merindukan putri, atau seperti air merindukan samudra. Tapi aku tahu perkataannya benar, hatiku tahu dia benar, maka aku membiarkan dia untuk mengantarkanku pulang. Lalu aku, dia dan teman-temannya pergi dari tempat itu.
Sepertinya aku tidak merasa seperti diriku saat itu, mungkin cuma dua perlima diriku. Aku seperti tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka tertawakan, yang aku lihat dan dengar mereka semua cuma terdiam, mereka semua tampak asing satu sama lain, sepanjang jalan terdiam, hanya beberapa kata yang terucapkan, … atau itu yang terdengar olehku. Aku hanya tahu pria tadi duduk disebelahku dan sepertinya menjagaku.
Setelah berjalan beberapa saat, aku dan pria itu turun dari mobil itu, sedangkan mereka semua melanjutkan perjalanannya yang ntah kemana, aku tidak tahu.
‘aku antar mbak ke terminal terdekat ya?, supaya mbak bisa pulang’
Dan aku hanya membalas dengan anggukan. Di terminal banyak orang lalu lalang, tampak berteriak teriak, ramai sekali. Tapi itu tidak sampai menggangguku. Pria itu membawa aku ke tepi, menemaniku menunggu bus yang tepat. Dia tampak terus berbicara, sekali kali dia tertawa, tapi aku cuma diam tak mampu membalasnya karena suara kecil sekali, malah sering tak terdengar… aku hanya melihat bibirnya yang naik turun dan giginya yang sesekali muncul… hanya mampu membalasnya dengan anggukan dan senyum seadanya…
Setelah pagi, aku menatap bungkusan merah didepanku, dikamarku . Setelah pagi aku sadar, aku tahu bungkusan itu tidak akan pernah sampai kepada dia yang di selatan itu. Seingin apapun aku…
Aku hanya perlu waktu untuk menghilangkan keinginan ini.
Cuma itu..
Tapi tunggu, siapa yang mengantarku tadi malam?
Aku tak ingat wajahnya, aku lupa namanya…
tapi aku rasa nanti juga aku akan bertemu dengannya lagi, nanti saja berkenalan lagi.